Friday, May 21, 2010

SIFAT-SIFAT ALLAH SEBAGAI TELADAN

Posted by Ija at 2:50 PM 0 comments

Kita semua wajib mengambil petunjuk dari sifat-sifat Allah, berjalan dengan menggunakan cahaya-Nya dan mengadopsinya sebagai teladan yang tertinggi, malah wajib kita jadikan sebagai puncak tujuan, sehingga kita dapat mencapai derajat kejiwaan dan kerohanian yang sesempurna mungkin yang dapat dicapai oleh seseorang manusia.

Imam Ghazali, rahimahullah, di dalam kitabnya yang bernama “Almaqashidul Asma.” menguraikan perihal asmauulhusna bagi Allah Taala, dia menjelaskan pula apa yang menjadi bagian setiap orang mukmin dari setiap nama itu. Itulah yang sepatutnya kita gunakan sebagai pedoman untuk kembali.

Dari kitab Addinul Islami, kita dapat mengutip uraian sebagai berikut, “Allah adalah Tuhan semesta alam yakni menguasai seluruh alam.” Ini adalah sebagai teladan yang amat tinggi yang setiap orang mukmin wajib merasakan isi kandungannya dan menyontohnya. Oleh sebab itu ia wajib berbuat baik untuk memberikan didikan kepada dirinya sendiri, berbuat baik kepada seluruh keluarganya dan berbuat segala sesuatu yang membawa kebaikan, kemaslahatan serta kebahagiaan untuk dirinya sendiri, keluarga, umat, bangsa, negaranya dan seterusnya.

Allah adalah Rahman, yakni Maha Pengasih. Dia memberikan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya, pertanda kecintaan-Nya kepada semuanya, sekali pun makhluk-makhluk-Nya tidak menunaikan pekerjaan yang wajib dipersembahkan kepada Tuhan yang menjadi hak-Nya Ini pun merupakan teladan yang amat luhur sekali yang setiap manusia hendaknya menghiasi dirinya dengan sifat itu. Dengan demikian ia akan menjadi seorang penyantun, pengasih dan penyayang kepada umat dan bangsanya. mengerjakan segala kebaikan semata-mata mengharapkan keridaan Allah Taala, bukan karena ingin mengharapkan manfaat, keuntungan atau karena takut ditimpa bahaya yang tidak dikehendaki.

Allah adalah Rahim, yakni Penyantun, memberi balasan kepada setiap manusia sesuai dengan amal yang dilakukannya. Ini pun merupakan teladan yang tertinggi yang memberikan pelajaran kepada setiap orang supaya suka membalas kebaikan dengan kebaikan, tidak sebaliknya.

Allah Taala adalah Maaliki yaumiddin, yakni raja hari pembalasan. Jadi Allah akan memperhitungkan semua amal perbuatan seluruh manusia tepat dan sesuai dengan apa yang ada dengan seadil-adilnya. Kemudian yang berbuat buruk akan dibalas dengan balasan yang buruk. Ini bukan dilakukan karena hendak membalas dendam tetapi dilaksanakan dengan jiwa yang penuh kasih dan kelapangan dada, sebagaimana yang dilakukan seorang tuan yang menyayangi hambanya yang sedang bersalah, atau pun sebagai seorang ayah yang menyayangi anaknya.

Ini pun merupakan teladan yang keluhurannya kiranya tidak ada bandingannya, sebab dengan mengenang sifat ini, setiap orang yang suka meniru dan menyontohnya, pasti akan mengharuskan pribadinya untuk bersifat lapang dada, toleransi, pemaaf dalam pergaulan dan muamalah dengan sesama manusia di dalam masyarakat.

Keempat macam sifat di atas memang merupakan sifat-sifat Allah Taala yang terluhur dan paling menonjol, yang dapat dijadikan sebagai teladan yang baik dan mulia. Apa yang dapat dikatakan mengenai keempat sifat itu, dapat pula dikatakan dari sifat-sifat yang lain. Misalnya saja sifat cinta dan sayang (rahmah) yang merupakan sifat-sifat Allah Taala yang dituangkan dalam nama-nama Allah Taala yang berbunyi seperti:

a. Rauuf (Maha Belas kasihan).

b. Waduud (Maha Mencintai).

c. 'Afuw (Maha Pengampun).

d. Syakuur (Maha Menerima terima kasih).

e. Salaam (Maha Menyelamatkan).

f. Mu'min (Maha Memberikan kesentosaan atau ketenangan).

g. Baar (Maha Baik dalam tindakan dan pemberian).

h. Rafi'ud darajat (Maha Meninggikan derajat).

i. Razzaaq (Maha Pemberi rezeki).

j. Wahhaab (Maha Pemberi karunia).

k. Waasi' (Maha Luas anugerahnya).

Semua sifat yang tertera di atas itu hendaknya digunakan oleh setiap manusia sebagai contoh untuk tindakan yang perlu dilaksanakan. Hendaknya dijadikan sebagai pelita penunjuk jalan yang harus dia tempuh dalam perjalanan hidupnya, mengikuti petunjuk yang benar yang diberikan dan hendaknya dirinya dihiasi dengan sifat-sifat yang baik-baik itu, sebagaimana yang kami uraikan di muka. Juga seperti sifat-sifat ilmu atau mengetahui yang lalu dituangkan dalam nama-nama Allah Taala yang berbunyi seperti:

a. 'Aliim (Maha Mengetahui).

b. Hakiim (Maha Bijaksana).

c. Samii' (Maha Mendengar).

d. Bashiir (Maha Melihat).

e. Syahiid (Maha Menyaksikan).

f. Raqiib (Maha Meneliti atau mengamat-amati).

g. Baathin (Maha Mengetahui yang rahasia).

Sifat-sifat di atas itu pun wajib diikuti oleh setiap manusia, agar ia dapat mencapai tingkat yang tertinggi yang mungkin dapat dicapai oleh manusia dalam hal ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Allah swt. telah menakdirkan untuk menjadikan manusia ini sebagai khalifah atau mandataris di atas permukaan bumi, sebagaimana firman-Nya, “Dan di kala Tuhanmu berfirman kepada malaikat-malaikat, “Sesungguhnya Aku membuat khalifah (pengganti) di bumi.” (Q.S. Al-Baqarah:30)

Manusia yang dijadikan oleh Allah Taala sebagai khalifah Dia beri keistimewaan dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Oleh sebab itu manusia pun diberi pengetahuan tentang nama-nama seluruh benda yang ada. Allah Taala berfirman, “Dan Allah mengajarkan kepada Adam akan nama-nama semuanya.” (Q.S. Al-Baqarah:31)

Dalam hal yang berhubungan khusus dengan kebijaksanaan-Nya. maka Allah Taala telah mengutus rasul-rasul-Nya untuk memberikan bimbingan, pimpinan dan petunjuk kepada umat manusia, juga untuk mengajarkan kebijaksanaan. Allah Taala berfirman, “Sebagaimana (kau lihat), Kami telah mengutus untukmu seorang rasul dari golonganmu sendiri, dibacakannya kepadamu keterangan-keterangan Kami, disucikannya kamu, diajarkannya kepadamu kitab dan hikmah kebijaksanaan.” (Q.S. Al-Baqarah:151)

Allah Taala berfirman pula, “Allah Taala mengaruniakan kenikmatan kepada seluruh kaum mukminin, ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari antara mereka sendiri yang membacakan ayat (keterangan-keterangan)-Nya, menyucikan mereka, mengajarkan kepada mereka itu kitab dan hikmah kebijaksanaan.” (Q.S. Ali Imran:164)

Selain itu ada pula firman-Nya, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat (keterangan-keterangan)-Nya, menyucikan mereka, mengajarkan kepada mereka itu Kitab dan Hikmat, sekali pun mereka itu sebelumnya (dahulunya) adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah:2)

Khusus dalam hal yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah swt. tentang kekuasaan dan cara mengatur-Nya ialah sebagaimana yang telah terjadi bahwa seluruh malaikat diperintah tunduk memberi penghormatan kepada manusia yakni Nabi Adam a.s., juga ditundukkannya semua langit dan bumi untuk khidmat kemanusiaan. Oleh sebab itu sudah sewajarnya manusia mengadopsi sifat-sifat Allah Taala sebagai contoh dan suri teladan, guna dijadikan sebagai bahan mengerjakan sesuatu yang erat hubungannya dengan kedudukannya sebagai khalifah Tuhan di atas bumi. Manusia wajib dapat mengambil guna dan manfaat dari apa yang dikaruniakan dan ditundukkan oleh Allah Taala untuknya. Tentu saja bukanlah maksud kami bahwa dengan mengambil sifat-sifat Allah Taala sebagai contoh yang tertinggi itu lalu manusia akan diharuskan dapat mencapai tingkat kesempurnaan yang sampai ke puncaknya. Ini tidaklah maksud kami dan bukan sekali-kali demikian tujuan kami, yang kami maksudkan ialah supaya manusia itu menjadikan sifat-sifat itu sebagai tambahan dalam menempuh kehidupannya, agar dengan menggunakannya ia akan dapat memperoleh kehidupan yang nyaman sentosa, aman makmur dan sejahtera.

Jom Chat

Large Ads

 

★~RainBow LanD~☆ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review